Arko's Official Site

Media Berbagi & Berdiskusi

Gaji Suami Untuk Keluarga, Gaji Istri Ya Untuk Istri.. Masa’ Sih?

Cuplikan perbincangan kemarin dengan seorang teman:

TM: Iya lagi ko.. Kalo udah married, gaji suami itu buat membiayai kebutuhan keluarga. Kalo istri kerja juga, brarti duitnya ya buat dia sendiri..

AK: Masa’ sih? Emang nggak bisa ya ditanggung berdua, gaji suami sama gaji istri ya sama-sama untuk keluarga?

TM: Ya boleh lah, tapi itu kalau istrinya mau kyk gitu.. Kalo dia nggak mau ya berarti itu haknya dia.. Karena emang laki-laki yang wajib mencari nafkah untuk keluarga.. Ada dalilnya lho.. bla.. bla.. bla.. dst.

Pembicaraan  serius tapi santai di atas cukup menarik bagi saya, karena saat ini saya memiliki seorang calon istri yang bekerja dan kami sedang merencanakan pernikahan dalam waktu yang cukup dekat.

Saya sejenak membayangkan jika saya menikah nanti, saya merencanakan mungkin hanya akan mengambil sekitar Rp. 700 ribu dari gaji saya perbulan untuk ongkos dan makan siang di kantor. Jumlah yang relatif sedikit kalau tidak bisa dibilang pas-pasan. 20 ribu untuk ongkos dan 10 ribu untuk makan siang.

Sisanya tentu akan saya serahkan kepada istri untuk dikelola, yang jumlahnya tentu berlipat-lipat dari pengeluaran rutin saya di atas. Jika sang istri adalah manajer keuangan yang handal tentu tidak masalah, tapi bagaimana jika sang istri tidak pandai mengatur pengeluaran keluarga? Cenderung boros misalnya.. Apalagi jika istri dengan prinsip yang saya sebutkan di awal memakai uang keluarga untuk keperluan pribadinya, padahal dia sendiri sebenarnya punya penghasilan yang menurutnya “ya itu hak saya sendiri”.

Menurut saya hal tersebut agak kurang adil khususnya untuk pihak laki-laki. Apakah memang gaji dari suami saja yang akan dikelola dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga?

Kalau saya pribadi berpendapat nafkah yang diperoleh keluarga, siapapun yang mencari, adalah nafkah keluarga atau yang dalam bahasa Undang-undang Perkawinan disebut harta bersama. Masalah uang apa untuk keperluan apa, itu tanggung jawab istri untuk mengaturnya. Tapi poin yang penting dari sini adalah kedua belah pihak punya tanggung jawab yang sama dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Kalau kata orang tua ketika menasehati saya:

“Gaji kamu tuh dikasih semua ke istri (kecuali yang untuk keperluan rutin pribadi tentunya), itu untuk belanja keluarga. Nah gaji istri itu ditabung sama dia sendiri, nanti hasilnya itu ya untuk membeli harta keluarga misalnya rumah, mobil, dsb.”

Hmm.. Sepertinya saya lebih sependapat dengan hal tersebut dibanding dengan prinsip “Gaji istri ya buat istri”.

Mungkin rekan-rekan ada pendapat lain mengenai hal ini..

About these ads

February 12, 2008 - Posted by | Love & Life

8 Comments »

  1. hehe, jadi teringat saya sendiri juga berencana menikah tahun ini. Sepertinya masalah itu harus disepakati dulu deh sebelum menikah. Saya dan pacar sama2 bekerja. Namun saya udah bisa memastikan ngga akan tiap bulannya dia nyetor ke saya. Paling2 hanya untuk belanja bulanan dan keperluan lain yang emang ditugaskan pada saya. Pacar saya berbisnis dan setiap ada uang lebih pasti mikir gimana cara muter uang itu biar lebih banyak, dan dia ngga terlalu suka nabung. Hasilnya, dia beli mobil atau ngelengkapin rumah. Pemasukan bulanan dia ngga pasti jadi saya pun juga ngga tau harus terima berapa banyak setoran bulanan dari dia. Smentara saya lebih konservatif dan mengalokasikan gaji bulanan utk ditabung. Mengingat penghasilan dia berkali kali lipat dari saya, dia pun setuju dengan konsep gaji istri untuk istri. Lagipula karena saya tidak mewajibkan seluruh penghasilan dia saya kelola, maka saya pun meminta hak penuh atas gaji saya, kecuali jika terjadi emergency. Toh saya juga ngga hidup bermewah-mewahan dan punya tabungan juga. Tapi kalo penghasilan suami dan istri sama-sama (sama-sama ngepas) sementara gaji suami abis tiap bulan dan istri bergaya hidup mewah, itu sih keterlaluan juga.

    Menurut saya sebaiknya mas menimbang-nimbang berapa penghasilan anda dan istri. Kalo memang kondisinya lebih besar penghasilan anda seharusnya anda lah yang lebih berperan dalam menghidupi keluarga, sementara penghasilan istri sebaiknya untuk cadangan saja, kalau-kalau terjadi sesuatu. Kalau tidak terjadi sesuatu pun bisa untuk beli rumah, mobil, pakai nama istri (penting itu). Jaman edan kayak gini banyak suami2 ninggalin keluarga. Pengalaman hidup saya ditinggal bapak kawin lagi, untung ada rumah, tanah, mobil atas nama ibu saya, jadi saya dan kakak2 bisa survive.

    Comment by v.ra | March 3, 2009 | Reply

  2. Di dalam rumah tangga sering kali kita menemukan ganjalan mengenai rejeki yang kita hasilkan bersama (mengenai penghasilan suami & istri). Padahal setiap kita memutuskan untuk menjalin suatu pernikahan, berarti kita sudah menyetujui komitmen dan aturan perkawinan di dalamnya, bahwa rezeki yang kita hasilkan setelah menjadi suami istri adalah rezeki yang harus kita kelola bersama. Tapi pada kenyataannya, beberapa orang istri-istri terdahulu mengatakan bahwa ”Uang suami adalah uang istri, tapi uang istri… adalah uang istri”, ini adalah pendapat keliru.. yang jika kita megusutnya sampai kemanapun, pendapat ini tetaplah keliru .

    Berikut ini saya sampaikan sedikit petikan hadist mengenai hal ini untuk anda para istri muslimah;

    “Seorang istri tidaklah boleh keluar rumah kecuali dengan izin suaminya, walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya dan untuk kebutuhan yang lain (bekerja) di dalam membantu suaminya.. serta untuk keperluan menjalankan Shalat di masjid.
    Jika sang sang istri mengingkari hal ini, berarti dia telah berbuat NUSYUZ (maksiat) di hadapan ALLAH, serta pantas mendapatkan hukuman”. (Majmul AL-Fatawa, 32/281).

    “Ridho ALLAH adalah Ridho suami yang mengizinkan seorang istri yang membantu suami (bekerja) demi kehidupan rumah tangganya”. (HR. Al-bukhari no.5224 dan Muslim no.2182).

    Pengertiannya disini adalah, bahwa anda para istri boleh memilih tinggal di rumah ataukah tetap bekerja?, sebab jika anda memilih bekerja “demi membangun sebuah ego”, maka sangatlah wajar jika suami anda menyuruh anda tinggal di rumah dengan segala kekurangan yg suami anda hasilkan untuk keluarganya. Dan ini di benarkan.

    Kita semua tau… di zaman sekarang ini, semuanya sudah serba lebih maju jika di bandingkan dulu. Kita melihat banyak wanita karier lebih meningkat kariernya di bandingkan pria…, tapi perlu di ingat bahwa derajat seorang istri tetaplah berada setingkat di bawah suami walau dunia ini akan berakhir jutaan tahun lagi.
    Demikian mohon di fahami.

    Salam.

    Comment by jansena | December 13, 2009 | Reply

    • @jansena : seorang suami memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di sebuah keluarga, namun jika seorang suami menganggap istri dengan prinsip “setingkat di bawah suami”, g banget.. istri adalah partner dalam keluarga begitu sebaliknya.. bekerja diluar rumah bukan demi membangun ego.. tapi untuk memenuhi kebutuhan istri dan rumah tangga yang tidak bisa di penuhi oleh suami.. jika suami sudah bisa memenuhi, untuk apalagi kerja, perlu digaris bawahi bekerja bukan untuk membangun ego..

      Comment by yufe | January 17, 2012 | Reply

  3. Harta ( duit, mobil, rmh) semua yg tanggung jawab adalah seorg suami, istri pakai gelang, anting dsb kelak yg akan di tanyakan adalah suamin bukan istri, pertanyaan Allah kpd istri hanya, kewajiban sebagai hamba Allah dan taat nggak sama suami ( yg baik ) dari sini saja sdh jelas, ketika seorg wanita menerima mahar dari seorg laki2 sejak itulah wanita jdi milik laki( suami ) apapun, makanya bagi seorg istri yg bekerja adalah niat membantu ekonomi suami, artinya duit, gaji apa saja semua milik seorg suami ma’af, byk sekali org keliru memahami ( duit suami duit istri, duit istri duit istri) yg benar adalah semua yg ada ketika wanita sdh menikah adalah milik suami, dan mana kala istri bekerja kmd gajian itu ada ijab qobulnya ( mas ini gaji sy sebulan sy pasrahkan, suami yg paham akan mengucapkan ya sdh di pegang aja ), dan betul sekali derajat antara wanita dan laki sederajat lbh tinggi, intinya duit suami ya duit suami, duit istri duit suami, Allah memulyakan kaum adam, proses di jadinya Nabi Adam ( laki2) 121 thn, sdg Hawa ( wanita ) kun fayakun, insya Allah ada manfaatnya, Siti Khodijah org kaya se kota mekkah tapi semua hartanya di pasrahkan utk Perjuangan Rosulullah.

    buat renungan kita smua. mohon ma’af, mohon ridhonya.

    salam,

    Comment by Ali | May 26, 2012 | Reply

  4. Sebaiknya penghasilan keluarga. ( baik dari suami atau istri ) menjadi milik anak anaknya ( ini adil) . dasar pemikirannya komitmen perkawinan kedua nya sudah menanggalkan ego masing masing , untuk menyatukan tekad dan hati membangun keluarga , untuk apa menikah jika egonya masih dipertahankan ??? Andai belum dikaruniai anak Sebaiknya harta menjadi milik bersama, apalagi waktu menikah kedua ya hanya modal dengkul aja ! Kompak dan gak usah dipisah pisah ,,! Kalau terjadi perceraian kan ada hukum yang mengaturnya ,!

    Comment by Trio | July 11, 2012 | Reply

  5. kalo prinsip gaji suami untuk keluarga, gaji istri ya untuk istri,…ini berlaku jika Gaji Suami lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga ya sah sah aja, tapi kl gaji suami pas pasan,istri tega seperti itu ??? sedangkan kebutuhan keluarga kan kebutuhan bersama.Justru emansipasi wanita bekerja kan karena tuntutan hidup, kalo bekerja untuk egoisme pribadi ,mending ga usah kerja dan berperan jadi istri yang semestinya.Dan suami punya hak mengizinkan/tidak istrinya bekerja.

    Comment by MZie | October 26, 2012 | Reply

  6. Bagaimana kalau begini: suami berprinsip, kalau dia wajib menafkahi istri bila istrinya tidak bekerja aka tidak punya penghasilan sendiri, sementara kalau punya pekerjaan, suami tidak wajib menafkahi istri. Dan uang hasil pekerjaan suami, digunakan untuk menafkahi keluarga dia sendiri, dalam artian: ayah dan ibunya, serta adik2nya. Sehingga dia tidak sekali pun pernah memberi nafkah materi pada istrinya. Apa itu benar adanya? Kalau memang begitu, wajar saja sepertinya kalau si istri berprinsip: duitmu duitku, duitku ya duitku.

    Comment by Lita | June 25, 2013 | Reply

  7. Seharusnya masing-masing gaji harus ada yang disisihkan untuk keperluan dan kebutuhan pribadi setelah mencukupi anggaran rumah tangga.

    Comment by Bisnis Pasutri Legal | July 17, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: